Ku Tunggu di Regal Chowk

air mataBulan Mei yang begitu menyengat, hiruk-pikuk kota Lahore yang khas. Aku yang kini tengah hampir 2 tahun tinggal di kota Lahore ini pun ternyata belum terbiasa menghadapi musim panas yang begitu dasyat. Padahal bulan ini barulah awal dari musim panas tapi sudah membuat darahku mendidih. Aku seorang mahasiswi S1 tingkat 2 universitas tehnik di kota Lahore ini. Sesungguhnya terasa sangat berat hidup berjauhan dengan orang tua di negeri Pakistan yang masih asing bagiku. Menuntut ilmu demi masa depan dan orang tua adalah hal yang menjadi alasan utama, aku mau berada disini saat ini.

Rasanya aku enggan beranjak dari kamarku. Namun hari ini aku harus siap menghadapi sengatan matahari itu, demi kekasih hati harus kupaksakan diri,  merelakan tubuhku terpanggang matahari. Bertemu seorang kekasih yang kelak akan menjadi imamku, yang akan menjadi panutan hatiku dan yang akan membimbingku ke surga. Mas fadly lelaki yang ku kenal sejak aku berada di negeri ini, seorang mahasiswa Punjub University yang siap menyandang gelar Master. Lelaki yang akan mengikat janji suci denganku, dalam dua bulan mendatang. Kami bertunangan sejak bulan juni tahun lalu tepatnya 10 bulan yang lalu.

Hari ini kami berjanji akan bertemu di tempat biasa, Regal Chowk. Tempat yang cukup jauh dari asramaku, kurang lebih 30 atau 40 menit perjalanan dengan reksa. Namun tak begitu jauh dari asrama tempat mas Fadly tinggal. Mas Fadly seorang yang baik dan sangat peduli padaku, sejak pertama kali aku datang ke negeri ini, dia lah orang yang banyak membantuku. Karena di Lahore memang tak banyak penduduk indonesia yang tinggal, pelajar pun ada beberapa, yang mayoritas adalah pelajar dari madrasah-madrasah di kota ini.

grrr….grrrr…. getaran terasa yang berasal dari handphoneku, tertanda ada sebuah pesan yang masuk.

” Dee, lg apa?jd ketemuan kan??jgn lupa jam 3 nanti.”

Isi pesan itu dari seorang yang paling aku cintai, dengan segera kau membalas.

” Iya mass, aku ud mw siap2 nih. C.U  yaaa. “

Ku tersenyum simpul, hatiku begitu senang ingin berjumpa dengannya. Kesibukan masing-masing membuat kami  menjadi jarang bertemu. Mungkin seminggu sekali atau bahkan dua minggu sekali. Ku lirik jam dinding di sisi kamarku menunjukan pukul 01.00 . “siap-siap ah”. Ku berkata pada diriku sendiri sambil tersenyum.

Aku begitu bersemangat ingin jumpa dirinya, namun tak lupa ku tunaikan kewajibanku sebagi seorang muslimah, menghadap Sang Pencipta yang telah banyak memberiku nikmat ini.

” Segar rasanya setelah sholat”.

Jam dinding kini telah menunjukan pukul 2.15, dan aku pun beranjak meninggalkan kamarku, menuruni satiap tangga di asramaku. Udara panas menyapu wajahku, ku tinggalkan asrama. Ku hentikan sebuah reksa yang datang menghampiriku.

” Regal Chowk jana?” kata ku dalam bahasa urdu.

“KIitna pesse??”

“Ek soo” sahut si pengendara reksa.

” nahi, Ashi!!” pintaku.

Sang pengendara reksa pun menyetujui tawaranku. Tak percuma dua tahun aku disini, sedikit-sedikit aku bisa bahasa urdu, untuk mempermudah berkomunikasi dengan warga sekitar.

” Mas, aku jalan” . Sebuah pesan singkat ku tujukan kepada mas Fadly.

Aku sengaja berangkat lebih awal, karena takut macet. Regal Chowk tempat kami berjanji bertemu tak jauh dari pasar yang terkenal disini, Anarkali. Tempat yang sangat rawan macet.

” Iya mas juga ud siap berangkat, ketemu disana yaaa”. Balas mas Fadly.

Perjalanan yang cukup melalahkan, udara yang panas asap kendaraan yang menyesakan dada ini, dan akhirnya aku pun sampai ke tempat tujuan. Dengan mengeluarkan selembar uang ratusan ku berikan kepada pengendara reksa.

” Syukriah”. Sahutku saat mengambil kembalian.

Ku cari tempat teduh untuk menunggu, ku pilih halte bis yang berada di depan toko manisan. Hatiku terasa berdetak kencang, tak sabar ku menunggunya. Kerinduan yang tak tertahankan meluap dalam panasnya matahari. Ku lirik jam tangan, menunjukan pukul 2.50.

” Mas aku udah sampe di regal, aku di halte depan toko manisan. Mas ud smpe mana? ” ku kirim kan pesan singkat kepadanya.

Detik demi detik ku tunggu kedatangannya, hari terasa semakin memanas. Tubuhku telah basah dengan keringat, 15 menit sudah berlalu, mas Fadly belum datang. “Koq tumben telat? ” tanya dalam hatiku, ” Macet kali”.

Aku mulai gelisah, panas dan juga tak tahan rasanya orang-orang yang lalu lalang di depanku memandangku seperti ingin menikam. Padahal aku berjilbab dan pakaianku pun tidak ketat, itulah anehnya kebiasaan orang-orang disini. Selalu melihat orang-orang asing sepertiku dengan tatapan tajam yang mengarikan. Ku lirik kembali jam tanganku kini menunjukan pukul 3.30. ” Kemana dlu yaaa dia”, tanya hatiku sambil mengerutkan kening. ” Sms yang tadi juga belum di balas”, pikirku. Ku coba menghubunginya, namun ternyata handphonenya tidak aktif.

” Koq ga aktif? mati kali ya handphonenya”, Pikirku.

Hatiku yang cemas, ku coba tenangkan hati, perpikir postitif dan jernih. Tak terasa hari berlalu dengan cepat, kini jam tangganku menunjukan pukul 7.30, namun dia belum datang juga. Hatiku yang cemas kini bercampur kesal, dan lelah. Ku coba hubungi dia kembali namun handphonenya tetap tidak aktif. ” Nih orang kemana sih, jadi ketemuan kaga sih, ga ada kabar ga ada apa”, kataku dalam hati.

Emosi yang begitu meluap, membuatku tak tahan menunggu, dan ku putuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku melayanglayang, pikiran buruk mulai menghujamku. Tetap ku coba menghubungi dia, ingin ku tahu apa alasan dia tak datang dan membatalkan pertemuan yang telah lama ku tunggu-tunggu ini. Hari yang melelahkan, ku ingin segera terlelap. Tapi kuteringat belum menunaikan kewajiban ku, ku ku ambil air wudhu, terasa begitu menyejukan hati. Ku mencoba memejamkan mata, dan berharap besok pagi dia akan menghubungiku, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Pagi pun datang menyapaku, ku masih merasa lelah dan mengantuk. Terdengar suara adzan bergema di seluruh pelosok kota. Ku lirik handphone ku, mungkin ada pesan yang masuk saat aku tertidur, namun ternyata tidak ada pesan yang masuk. Ku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

” Ya Rabb, ampunilah hambaMU ini. Jauhkan lah hamba dari buruk sangka kepada seorang yang ku cintai. Lindungilah dia dari segala mara bahaya, Amin”.

Ku terdiam dalam lamunan,pikiranku melayang entah kemana. Apa yang terjadi sebenarnya, sungguh ku tak mengerti. Waktu berjalan dengan cepat, jam menunjukan pukul 6.30.

“Baiknya ku siap-siap untuk pergi kuliah”, pikirku.

Hari ini tersa begitu berat, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Sepanjang hari di kelas, aku tak dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran, aku masih memikirkan apa yang terjadi dengannya, hingga saat ini tak ada kabar. Setelah kelas berakhir, aku langsung pulang menuju asrama. Sesampainya di asrama, seorang penjaga asrama memberi tahuku bahwa ada seorang yang tengah menungguku di ruang tamu. Pikiran ku langsung tertuju kepada mas Fadly, mungkin dia datang untuk bertemuku. Aku langsung saja bergegas menunju ruang tamu asrama. Ku terkejut ternyata dia bukan lah mas Fadly, melainkan Pa Randry, salah seorang petugas KBRI.

” Assalamualaikum pa? apa kabanya pa? sudah lama nunggu yaa? “, tanyaku sambil tersenyum.

” Wa’alaikum salam, saya baik, iya tidak apa-apa kok, udah pulang kuliahnya? “, jawabnya.

” Iya pa, kiranya ada yang bisa saya bantu?”

” Begini dek Lina, saya cuma mau kasih kabar”, kata Pa Randry perlahan.

” Iya pa, ada kabar apa? kayanya penting banget nih sampe jauh-jauh ke lahore “, kataku santai.

” Dek lina yang sabar ya, Semalam kira-kira pukul 10 ada yang menghubungi pihak KBRI, mengabari bahwa si Fadly mengalami kecelakaan, kemarin pukul 2.30 tak jauh dari asramanya” , jelas Pa Rendry.

Aku sungguh terkejut tak percaya, hatiku terasa menyesak seketika.

” Untuk itu saya datang ke Lahore untuk memastikan kebenaran berita itu”, sambungnya.

” Terus bagaimana keadaan mas Fadly sekarang? Sekarang dia dimana? ” , tanyaku dengan penuh rasa cemas.

” Iya tadi saya dari rumah sakit, tapi maaf dek lina,kecelakaan itu begitu dasyat…” ,  air mataku tak tertahankan lagi, membasahi pipiku.

            “tim dokter berusaha menyelamatan Fadly…”

Suasana menjadi begitu sunyi dan mencekram.

“ namun….”

“…Tuhan berkehendak lain”

 

***

Lahore, 06-May-2008

Novie

Arti Sebuah Ketulusan

blue.jpg…Ya Rabb lindungilah dia, ampunilah segala dosa-dosanya. Jagalah keluarganya, anak-anaknya dan istrinya. Sesungguhnya aku mencintainya karena Engkau Ya Allah. Ya Rabb ampunilah aku yang telah mencintai dan menyayanginya, sungguh ku tak bermaksud menyakiti hati siapa pun di dunia ini. Aku serahkan seluruhnya padaMU Ya Allah.Ya Rabb berilah aku kekuatan dalam menerima segala cobaan yang Engkau berikan. Amin!!

Mysha menikah dengan mas Yogie, walau hanya secara sirri. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa paksaan dan tak ada yang merasa menyesali ini semua. Mysha yang begitu mencintai dan menyayangi Yogie, begitu pula sebaliknya.

“..dee!!mas suami ini kamu, mas nikahi kamu bukan berarti mas ga sayang lagi sama istri mas!!mas juga sayang ade, mas ingin ade bahagia”. Mysha terharu mendengar perkataan Yogie itu. “Maafin mas ya de, mas menikahimu, menjadikanmu istriku, mas juga ga tahu semua ini berjalan begitu aj, mas ga mau berbuat dosa de”. Air mata membasahi pipi Yogie.”Maafin mas dee..mas juga ga tahu hikmah apa di balik ini semua, Yang Maha Kuasa lah yang mengatur pertemuan kita. Apa ade menyesal menikah dengan mas?”

“tidak mas, aku menerimanya dengan sangat sadar dan aku ga akan menyesalinya Insya Allah, Aku juga sayang mas, mas jangan nangis lagi yaa. Mungkin ini sudah suratan kita. tak perlu di sesali dan di ratapi”. Mata Mysha terlihat berkaca-kaca dan kemudian melelehkan air matanya. Mas Yogie yang Mysha kenal begitu tegar dan kuat dapat menangis di hadapan dia. Sungguh Mysha tidak penah menyangka mas Yogie menangis untuknya.

Ya Allah, begitu sayang dia padaku. Orang yang begitu hebat seperti mas Yogie menitiskan air matanya di hadapan ku, untukku. Aku tahu dia adalah orang yang hebat dan semua orang tahu itu, sungguh ia sayang padaku. Aku pun sangat menyayanginya.

“Ade mengerti kenapa mas menangis?Karena mas tidak tahu rahasia apa di balik semua ini semoga hikmah terbesar dariNYA. Tapi jujur ku menangis karena emosi, aku ingin ade sukses, dan jangan putus asa apa lagi gagal Nauzubillah, karena kasih sayang ini. Jadikan pelita hidupmu yaa. Mas juga dapat pelajaran berharga dari ini semua”.

“Iya mas, Insya Allah”.Mysha menganggukkan kepalanya dan tersenyum.Meski pun Mysha dan mas Yogie telah menikah meraka tak dapat tinggal bersama, status Mysha sebagai istri mas Yogie tak ada yang mengetahuinya. Namun mereka masih tetap bersama, dengan sedikit menyediakan waktu luang. Hubungan mereka harus tetap dirahasiakan dari siapa pun, dan jika ada teman dari luar kota datang untuk berkunjung, mereka hanya bisa bersandiwara.

“Mas summer nanti aku ke Islamabad ya?”

“Iya sayang, tapi ingat ya jangan sampai ada yang tau tentang kita dan kita harus sandiwara!”

“Iya mas, aku tau koq”. Mysha tersenyum

Ini summer pertama Mysha di negeri asing ini, begitu menyiksa rasanya, panas yang menyengit dan kering. Sudah menjadi tradisi mungkin, bagi penduduk Indonesia yang berada di kota Lahore hijrah ke Islamabad di musim summer. Selain untuk liburan dan juga dapat sedikit mengobati rasa rindu kepada tanah air tercinta, karena di Islamabad cukup banyak penduduk Indonesianya.

Di Islamabad Mysha dan mas Yogie menjadi begitu jarang berjumpa, mereka berusaha sebiasa mungkin dan menutupi segala yang terjagi di antara mereka, hanya melalui sms lah mereka berkomunikasi. Kadang jika ada kesempatan mereka berjumpa di suatu tempat rahasia. Sekedar melepaskan rasa rindu sepasang suami istri. 

*** 

Hari demi hari berlalu bersama,suka dan duka mereka bagi bersama. Sampai pada akhirnya. Mas Yogie harus pulang karena masa tugasnya di Negeri Jinnah ini telah usai. Begitu berat bagi Mysha menerima kenyataan ini karena ia begitu sayang dan mencintai mas Yogie.

Ia akan pergi, apa ini berarti akhir dari kisah ini? Ya Allah berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi setiap cobaan yang Engkau berikan padaku. Sungguh begitu berat bagiku cobaan ini, sungguh aku sangat menyayanginya. Tapi aku ga mau egois Karena ia memiliki keluarga di sana. Ya Allah berikanlah keikhlasan di hatiku. Mungkin Sekarang ini aku masih istrinya, tp sampai kapan?firasatku tak lama lagi.Semoga saja firasatku yang salah. Mas seandainya kamu taummori kita adalah yang terindah dalam hidupku. Aku sayang pada mas bukan karena terpaksa atau dipaksa, bukan karena uang atau harta. Tapi rasa ini tulus adanya, tumbuh dengan sendirinya

“dee.. mas mungkin pulang bulan depan, karena semua kerjaan disini sudah mulai beres. Sebenernya mas berat mengatakan hal ini, tapi mas tahu pasti ade dapat dengan bijak menghadapi ini semua”.

 “Aku ingin menikmati hari-hari terakhirku dengan mas!”.

“Iya sayang tentu”.

“Mas apa mas bahagia?”           

“Alhamdulillah sangat bahagia, bahkan rasa syukur mas amat besar. Dan ini mas bawa pek akherat”.           

kenapa mas bahagia?”           

“Mas dapat berikan kasih sayang dan ade terima dengan ikhlas, air mata keluar bercampur syukur bahagia harapan apa pun itu”.           

“Iya mas aku juga sangat bahagia, dan terimakasi dengan segala kasih sayang yang mas berikan padaku selama ini”.           

Waktu berlalu begitu cepat, kini telah masuk bulan Ramadhan, dan akan tiba saatnya perpisahan itu.           

Besok adalah keberangkatannya, dia akan pergi dari negri ini, entah kapan aku akan berjumpa kembali dengannya. Hingga detik ini aku masih istrinya, ada apa di balik ini semua. Apakah besok ketika ia mengatakan kata perpisahan ia akan menceraikanku?Aku masih ingin bersama dengannya, masih ingin berbagi kasih dengannya. Dan aku tau ku tak bisa buatmu tetap tinggal disini.           

Mysha tak dapat memejamkan matanya, air matanya mengalir dengan derasnya tiada henti. Dengan membaca-baca kembali sms-sms dari mas yogie.            “Tp kita tidak saling kehilangan mata adalah semu, menipu. Dibalik dinding tak kan nampak.tapi mata hati tidak akan menipu,mas tidak jauh, tapi disitu jika ade simpan dengan rapi”.           

Sepanjang malam Mysha tak tidur, matanya bengkak karena menangis. Seakan ia ingin menghentikan waktu, dan biar kan itu tetap begitu.           

Pagi itu pukul 6.30 mas yogie datang ke asrama Mysha untuk mngatakan kata perpisahan, karena mas Yogie melarang Mysha untuk ikut mengentar hingga bandara. Karena banyak teman Indonesia yang dari Islamabad datang mengantar, dan takut Mysha tidak kuat dan menangis saat di bandara nanti.           

“Ade mas pergi yaaa, ade baik-baik disini”.Mysha hanya terdiam dan begitu sedih, tak mampu ia berkata-kata.”Sini mas peluk”.           

 Mysha memeluk kuat mas yogie air matanya tak dapat keluar lagi, seakan telah kering tak bersisa.           

“Ade jangan sedih yaaa…mas jadi ikut sedih”. Mas yogie pun melepas kan pelukan dan pergi.           

“Mas pergi yaaa sayang”.           

Mysha pun berlari menuju kamarnya, ia menangis sejadi-jadinya. Semua rasa tumpah dalam bentuk air mata. Di saat-saat terakhir Mysha justru tak dapat berkata apa-apa. Begitu berat rasanya, dadanya tersentak, mulutnya membisu, hanya air mata yang tanpa henti mengalir membasahi pipinya.           

Grrrr…grrrr… getar handphone Mysha menyadarkannya dari lamunan.           

“Mas naik pesawat yang jam 2 siang”. Pesan itu ternya dari mas yogie           

Ya Allah dia akan pergi hari ini, tapi dia akan tetap disini, di hatiku dia tak kan kemana-mana. Dia pun janji akan tetap menjagaku di hatinya.Ya Allah Ya Tuhanku lindungilah dia, aku sungguh mencintainya. Berikanlah aku keikhlasan untuk melepasnya, Ya Allah, demi mu aku ikhlas, demi kebahagiaannya aku relakan dia.            

“Mas nanti kabarin aku yaa jika udah smpe sana”. sms Mysha kepada mas yogie menjelang keberangkatannya.           

“Ya sayang..mas pasti kabari, mas terimakasi atas sgala kasih sayang dan cintamu pd mas. Mas dapat rasakan, Yang Maha Tahu pasti telah atur semua, mas bsyukur tanpa sesal”. Balas mas Yogie.           

“Iya mas aku juga ga akan menyasali semua yg telah terjadi, karena itu keputusanku, Mas Hati-hati yaa!!aku sayang sama mas”.           

 “Ya hati-hati jg…CU!!dee..mas jg sayang ade.ga kasihan tp bangga, jg cemburu pd kbrhasilanmu smga cepat.Amin!!”           

“Iya mas CU…aku harap kita bisa berjumpa lagi. Aku ud ikhlaskan mas, hati ku ud tenang”.           

“Ya sayang pasti kita harus basar jiwa dan jaga srapi mungkin ttg kita.ada apa-apa kita bahas di udara, eitt…ud mw jalan nih bye adee.met blaja pek gemuk yaaa!!hehehehe”.           

Dia sudah pergi, tp aku masih istrinya,entah sampai kapan. Ya Allah lindungilah dia, Amin!! 

***

By Novie

Lahore Februari 2008

Perawan Di Negeri Jinnah

rings.jpg 

…Awalaisal ladzii khalaqas samaawaati wal ardha biqaadirin ‘alaa ay-yakhluqa mitslahum balaa, wa huwal khallaaqul ‘aliim. In-namaa amruhuu idzaa araada syai-an ayyaquu-la lahuu kun fayakuun. Fasubhanal ladzii biyadihii malakuutu kulli syai-iw wa ilaihi turja’uun…

            “Grrrr….grrrr…” suara getaran handphone terdengar dr atas meja, bertanda pesan ada baru yang masuk. Mysha farees tahu persis dari siapa pesan itu datang... Sodakallahuladzim…Mysha pun mengambil handphonenya dari atas meja. “Ass..adee ayo banguuun!!solat2…” tertulis dalam pesan pendek yang selalu Mysha terima disetiap harinya, pesan yang datang dari orang yang sama dia adalah Mas Yogie Ilham.

             Mysha berada jauh dari keluarga, merantau di negeri jinnah karena harus melanjutkan sekolahnya disini, demi orang tua tercinta. Pada awal kedatangannya ke negeri jinnah ini, Mysha memiliki begitu banyak masalah yang dihadapi, salah satunya karena tidak begitu banyak warga Indonesia yang tinggal di kota Lahore. Namun ia tetap menjalaninya dengan tabah dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Mas Yogie adalah warga Indonesia yang Mysha kenal sejak lima bulan lalu, Mas Yogie datang dua bulan setelah Masya bertujuan untuk urusan bisnis karena dikirim dari perusahaan dimana ia bekerja.

             “Wsalam iya udah mas bru aj klar solat n Yasinan…mas sndri ud solat blm??” seperti biasa Mysha membalas pesan tersebut dengan segera. Kedekatan antara mereka ini menimbulkan rasa sayang satu dengan yang lainnya. Rasa yang datang dengan sendirinya itu seharusnya tidak boleh pernah ada. Karena Mas Yogie adalah seseorang yang telah beristri dan telah memiliki 2 orang putra.

            Entah akan ada apa hari ini, aku merasa hari ini adalah hari yang begitu berarti dalam hidupku. Akan ada keputusan besar yg ku ambil hari ini. Itu lah yang ada dipikiran Mysha, teringat akan perbincanganya dengan Mas Yogie beberapa waktu lalu.

            “Ade mau miliki mas seutuhnya selama mas disini??”

            “Hmmm maksudnya??” Mysha mengerutkan keningnya.

            “Yaa selama mas disini apa ade mau miliki mas seutuhnya?”

            Pertanyaan yang begitu sulit ku jawab. Mas seandainya kautahu isi hatiku, rasa sayangku padamutulus dan  ikhlas, tanpa ada paksaan. Tapi apa mungkin bisa aku memilikimu.

            “adee…besok minggu kita ktemu ditempat biasa yaa”, pesan singkat dari Mas Yogie  itu telah di baca berulang kali oleh Mysha. Ini berarti hari ini tanggal 13 Mai tahun 2007, jam sembilan nanti ya . Mysha berpikir gelisah, entah apa yang akan terjadi tapi firasatnya akan ada hal besar.

            “Oh yaaa…pake baju terbagus yaaa!!C.U”

            Dilihatnya jam dinding menunjukan pukul 8.00. Masih sejam lagi. Kenapa hati ku jadi makin tak tenang.

            Dengan mengenakan baju hitam putih kesayangannya Mysha pun pergi meninggalkan asramanya.

             “Bhai! regal chowk jana hai, Pechas ya!” sopir reksa pun menggelengkan kepalanya tanda setuju dengan harga yang ditawarkan. Mysha pun pergi ke tempat yang telah ditentukan bersama sebelumnya. Hanya memebutuhkan 20 menit untuk sampai di tempat tujuan dari asrama Mysha.

           “Bhai yaha ruk ja eay, Sukriya!”

           Dilihatnya toko-toko masih tutup. Dengan segera ia mengirim pesan singkat, ” mas masih tutup KFCnya, aku tunggu dhalte dpn KFC aj yaa..”

           “iya mas bentar lg pek situ”

           Tak berapa lama Mas Yogie yang dinanti-nanti pun tiba. wahhh!!gantengnya. Dalam pikiran Mysha dengan kagumnya. “udah lama de?”. ” belum mass, baru aj” dengan tersenyum Mysha menjawab. “kita ke toko kue aj ya, sebelah sana udah buka kayanya.” Ajakan Mas Yogie. Mysha hanya menurut dan mengikutinya dari belakang sambil tersenyum kagum.

              “Mau minum apa de?”

              “Jus apel aja”

              “Sudah sarapan?”

              “Sudah koq tadi beli di kantin”

               Mereka pun duduk di meja dekat jendela. Dan Mas Yogie meletakkan sebuah bungkusan diatas meja.

               “Ade ini Al-Quran, taruh tanganmu di atas sini, mas mw dengar janjimu.” Mysha pun meletakkan tangannya di atas bungkusan berisi Al-Quran tersebut. “Adee…janji ya jangan bilang siapa-siapa soal kita, termasuk pada sahabat dekat dan mamahmu.” Dengan senyum Mysha menjawab ”iya mass”. “Mas ga mau melakukan dosa, mas juga ga mau mengajarkan yang tidak-tidak padamu. Kamu gadis yang baik. Adeee…”

           “Iya mas!”

          “Siap kita nikah hari ini?” Wajah Mysha nampak memerah karena malu, ia terdiam dan menundukkan kepalanya. “Adee!!kita udah sama-sama dewasa dan orang tua kita pun sudah percayakan semuanya pada kita, semua keputusan itu ada pada kita.”

            Mysha tetap tak bisa berkata apa-apa, dan tetap menundukan kepalanya.“Untuk sementara ini, itu aja dulu yaa, jika ade punya pertanyaan nanti aja yaa setelah ijab.”

            “adee…!!” Mas yogie memanggilnya lembut, “liat mas”Dengan perlahan Mysha mengangkat kepalanya dengan wajahnya yang masih memerah tapi tetap ia tak bersuara.

            “Jika ade ga setuju bilang ngga, dan jika ade setuju bilang insya Allah”

            Yaa..Allah apa yang harus aku perbuat?apa ini mimpi?ya Allah aku menyayanginya dan itu adalah kebenaran,tapi….apa aku harus menerimanya atau menolaknya. Bagaimana dengan anak dan istrinya. ya Allah aku mohon petunjukmu. Mysha berfikir keras dan juga bimbang.

              “Adeee…” Mas Yogie memanggilnya lagi.

              Bismillahir Rahmaanir Rahim, dalam hati Mysha dan dengan perlahan menghembuskan nafasnya.

              “Insya Allah mas” 

  ***

Lahore 3 November 2007

by: novie