Ku Tunggu di Regal Chowk
Bulan Mei yang begitu menyengat, hiruk-pikuk kota Lahore yang khas. Aku yang kini tengah hampir 2 tahun tinggal di kota Lahore ini pun ternyata belum terbiasa menghadapi musim panas yang begitu dasyat. Padahal bulan ini barulah awal dari musim panas tapi sudah membuat darahku mendidih. Aku seorang mahasiswi S1 tingkat 2 universitas tehnik di kota Lahore ini. Sesungguhnya terasa sangat berat hidup berjauhan dengan orang tua di negeri Pakistan yang masih asing bagiku. Menuntut ilmu demi masa depan dan orang tua adalah hal yang menjadi alasan utama, aku mau berada disini saat ini.
Rasanya aku enggan beranjak dari kamarku. Namun hari ini aku harus siap menghadapi sengatan matahari itu, demi kekasih hati harus kupaksakan diri, merelakan tubuhku terpanggang matahari. Bertemu seorang kekasih yang kelak akan menjadi imamku, yang akan menjadi panutan hatiku dan yang akan membimbingku ke surga. Mas fadly lelaki yang ku kenal sejak aku berada di negeri ini, seorang mahasiswa Punjub University yang siap menyandang gelar Master. Lelaki yang akan mengikat janji suci denganku, dalam dua bulan mendatang. Kami bertunangan sejak bulan juni tahun lalu tepatnya 10 bulan yang lalu.
Hari ini kami berjanji akan bertemu di tempat biasa, Regal Chowk. Tempat yang cukup jauh dari asramaku, kurang lebih 30 atau 40 menit perjalanan dengan reksa. Namun tak begitu jauh dari asrama tempat mas Fadly tinggal. Mas Fadly seorang yang baik dan sangat peduli padaku, sejak pertama kali aku datang ke negeri ini, dia lah orang yang banyak membantuku. Karena di Lahore memang tak banyak penduduk indonesia yang tinggal, pelajar pun ada beberapa, yang mayoritas adalah pelajar dari madrasah-madrasah di kota ini.
grrr….grrrr…. getaran terasa yang berasal dari handphoneku, tertanda ada sebuah pesan yang masuk.
” Dee, lg apa?jd ketemuan kan??jgn lupa jam 3 nanti.”
Isi pesan itu dari seorang yang paling aku cintai, dengan segera kau membalas.
” Iya mass, aku ud mw siap2 nih. C.U yaaa. “
Ku tersenyum simpul, hatiku begitu senang ingin berjumpa dengannya. Kesibukan masing-masing membuat kami menjadi jarang bertemu. Mungkin seminggu sekali atau bahkan dua minggu sekali. Ku lirik jam dinding di sisi kamarku menunjukan pukul 01.00 . “siap-siap ah”. Ku berkata pada diriku sendiri sambil tersenyum.
Aku begitu bersemangat ingin jumpa dirinya, namun tak lupa ku tunaikan kewajibanku sebagi seorang muslimah, menghadap Sang Pencipta yang telah banyak memberiku nikmat ini.
” Segar rasanya setelah sholat”.
Jam dinding kini telah menunjukan pukul 2.15, dan aku pun beranjak meninggalkan kamarku, menuruni satiap tangga di asramaku. Udara panas menyapu wajahku, ku tinggalkan asrama. Ku hentikan sebuah reksa yang datang menghampiriku.
” Regal Chowk jana?” kata ku dalam bahasa urdu.
“KIitna pesse??”
“Ek soo” sahut si pengendara reksa.
” nahi, Ashi!!” pintaku.
Sang pengendara reksa pun menyetujui tawaranku. Tak percuma dua tahun aku disini, sedikit-sedikit aku bisa bahasa urdu, untuk mempermudah berkomunikasi dengan warga sekitar.
” Mas, aku jalan” . Sebuah pesan singkat ku tujukan kepada mas Fadly.
Aku sengaja berangkat lebih awal, karena takut macet. Regal Chowk tempat kami berjanji bertemu tak jauh dari pasar yang terkenal disini, Anarkali. Tempat yang sangat rawan macet.
” Iya mas juga ud siap berangkat, ketemu disana yaaa”. Balas mas Fadly.
Perjalanan yang cukup melalahkan, udara yang panas asap kendaraan yang menyesakan dada ini, dan akhirnya aku pun sampai ke tempat tujuan. Dengan mengeluarkan selembar uang ratusan ku berikan kepada pengendara reksa.
” Syukriah”. Sahutku saat mengambil kembalian.
Ku cari tempat teduh untuk menunggu, ku pilih halte bis yang berada di depan toko manisan. Hatiku terasa berdetak kencang, tak sabar ku menunggunya. Kerinduan yang tak tertahankan meluap dalam panasnya matahari. Ku lirik jam tangan, menunjukan pukul 2.50.
” Mas aku udah sampe di regal, aku di halte depan toko manisan. Mas ud smpe mana? ” ku kirim kan pesan singkat kepadanya.
Detik demi detik ku tunggu kedatangannya, hari terasa semakin memanas. Tubuhku telah basah dengan keringat, 15 menit sudah berlalu, mas Fadly belum datang. “Koq tumben telat? ” tanya dalam hatiku, ” Macet kali”.
Aku mulai gelisah, panas dan juga tak tahan rasanya orang-orang yang lalu lalang di depanku memandangku seperti ingin menikam. Padahal aku berjilbab dan pakaianku pun tidak ketat, itulah anehnya kebiasaan orang-orang disini. Selalu melihat orang-orang asing sepertiku dengan tatapan tajam yang mengarikan. Ku lirik kembali jam tanganku kini menunjukan pukul 3.30. ” Kemana dlu yaaa dia”, tanya hatiku sambil mengerutkan kening. ” Sms yang tadi juga belum di balas”, pikirku. Ku coba menghubunginya, namun ternyata handphonenya tidak aktif.
” Koq ga aktif? mati kali ya handphonenya”, Pikirku.
Hatiku yang cemas, ku coba tenangkan hati, perpikir postitif dan jernih. Tak terasa hari berlalu dengan cepat, kini jam tangganku menunjukan pukul 7.30, namun dia belum datang juga. Hatiku yang cemas kini bercampur kesal, dan lelah. Ku coba hubungi dia kembali namun handphonenya tetap tidak aktif. ” Nih orang kemana sih, jadi ketemuan kaga sih, ga ada kabar ga ada apa”, kataku dalam hati.
Emosi yang begitu meluap, membuatku tak tahan menunggu, dan ku putuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku melayanglayang, pikiran buruk mulai menghujamku. Tetap ku coba menghubungi dia, ingin ku tahu apa alasan dia tak datang dan membatalkan pertemuan yang telah lama ku tunggu-tunggu ini. Hari yang melelahkan, ku ingin segera terlelap. Tapi kuteringat belum menunaikan kewajiban ku, ku ku ambil air wudhu, terasa begitu menyejukan hati. Ku mencoba memejamkan mata, dan berharap besok pagi dia akan menghubungiku, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Pagi pun datang menyapaku, ku masih merasa lelah dan mengantuk. Terdengar suara adzan bergema di seluruh pelosok kota. Ku lirik handphone ku, mungkin ada pesan yang masuk saat aku tertidur, namun ternyata tidak ada pesan yang masuk. Ku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
” Ya Rabb, ampunilah hambaMU ini. Jauhkan lah hamba dari buruk sangka kepada seorang yang ku cintai. Lindungilah dia dari segala mara bahaya, Amin”.
Ku terdiam dalam lamunan,pikiranku melayang entah kemana. Apa yang terjadi sebenarnya, sungguh ku tak mengerti. Waktu berjalan dengan cepat, jam menunjukan pukul 6.30.
“Baiknya ku siap-siap untuk pergi kuliah”, pikirku.
Hari ini tersa begitu berat, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Sepanjang hari di kelas, aku tak dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran, aku masih memikirkan apa yang terjadi dengannya, hingga saat ini tak ada kabar. Setelah kelas berakhir, aku langsung pulang menuju asrama. Sesampainya di asrama, seorang penjaga asrama memberi tahuku bahwa ada seorang yang tengah menungguku di ruang tamu. Pikiran ku langsung tertuju kepada mas Fadly, mungkin dia datang untuk bertemuku. Aku langsung saja bergegas menunju ruang tamu asrama. Ku terkejut ternyata dia bukan lah mas Fadly, melainkan Pa Randry, salah seorang petugas KBRI.
” Assalamualaikum pa? apa kabanya pa? sudah lama nunggu yaa? “, tanyaku sambil tersenyum.
” Wa’alaikum salam, saya baik, iya tidak apa-apa kok, udah pulang kuliahnya? “, jawabnya.
” Iya pa, kiranya ada yang bisa saya bantu?”
” Begini dek Lina, saya cuma mau kasih kabar”, kata Pa Randry perlahan.
” Iya pa, ada kabar apa? kayanya penting banget nih sampe jauh-jauh ke lahore “, kataku santai.
” Dek lina yang sabar ya, Semalam kira-kira pukul 10 ada yang menghubungi pihak KBRI, mengabari bahwa si Fadly mengalami kecelakaan, kemarin pukul 2.30 tak jauh dari asramanya” , jelas Pa Rendry.
Aku sungguh terkejut tak percaya, hatiku terasa menyesak seketika.
” Untuk itu saya datang ke Lahore untuk memastikan kebenaran berita itu”, sambungnya.
” Terus bagaimana keadaan mas Fadly sekarang? Sekarang dia dimana? ” , tanyaku dengan penuh rasa cemas.
” Iya tadi saya dari rumah sakit, tapi maaf dek lina,kecelakaan itu begitu dasyat…” , air mataku tak tertahankan lagi, membasahi pipiku.
“tim dokter berusaha menyelamatan Fadly…”
Suasana menjadi begitu sunyi dan mencekram.
…
…
“ namun….”
“…Tuhan berkehendak lain”
***
Lahore, 06-May-2008
Novie











